Minggu, 25 Juli 2010

Awal baru untuk perubahan

Yak, setelah vakum untuk berapa lama di kancah per-blog-an,
akhirnya gue memutuskan untuk kembali menulis.

Kenapa keputusan ini gue ambil?
Tidak lain dan tidak bukan adalah karena beberapa perubahan pada kehidupan gue
yang baru2 ini terjadi begitu cepat.

Inti ceritanya adalah, gue mengalami perubahan status, perubahan tanggung jawab, perubahan sudut pandang dan perubahan irama kerja dalam kurun waktu yang sangat singkat.
Di masa-masa penyesuaian diri inilah, tiba-tiba muncul pertanyaan dari dalam hati gue.

Apa sih yang sebenernya gue kejar dari sini?
Apa sih yang sebenernya gue dapatkan dari sini?
Apa ini yang sebenernya gue mau?

Gue pun terdiam dan berpikir.
Apa sih yang dicari oleh orang-orang yang bekerja?
Selama ini yang selalu gue dengar adalah :

'Kalo ga mikirin anak-anak, gue pasti udah berhenti dari dulu'
'Cari kerjaan sekarang susah, belum tentu dapet yang langsung permanen'
'Kalo ga ada gaji, gimana gue mau hidup?'
'Ah, buat apa pindah? Gajinya lebih kecil dari yang disini'

Gue cukup pede untuk menyatakan bahwa pada umumnya inilah alasan yang akan dilontarkan
karyawan yang merasa tidak puas dengan pekerjaannya sekarang, tetapi tidak mau untuk
berhenti.

Dan gue juga semakin yakin bahwa alasan untuk kita bangun pagi setiap hari dan bekerja,
ternyata tidak lagi mulia.
Kita tidak lagi bangun pagi dan berniat untuk bekerja. Tapi kita TERPAKSA bangun pagi
setiap hari karena HARUS bekerja.

Sangat sedikit sekali orang yang mengawali paginya dengan antusias akan berangkat kerja.
Sedikit sekali orang yang melangkahkan kakinya dengan semangat ke tempat kerja dengan
harapan akan bekerja dan menghasilkan sesuatu.

Gue pun mencoba untuk mengusut kebelakang, sedikit lebih dalam. Kenapa ini terjadi?

Sampailah pada satu kesimpulan : Hati

Jika hati kita tidak ada di pekerjaan itu, maka selesailah sudah.
Yang ada hanyalah setumpuk omong kosong yang harus kita kerjakan, jika kita masih
ingin membeli sekarung beras untuk bulan depan.
Pekerjaan hanya akan menjadi alat bagi kita untuk menebus kebutuhan rumah tangga.

Tapi apa yang akan terjadi apabila hati kita ada di pekerjaan tersebut?
Kita akan mengambil setumpuk pekerjaan, dan kita akan berpikir :
Apa yang dapat kita lakukan untuk membuat hasil pekerjaan kita memuaskan?
Kita akan mendapatkan nilai tambah disitu : kepuasan
Bukan kepuasan atasan, bukan kepuasan rekan kerja, bukan kepuasan bawahan.
Tapi kepuasan kita sebagai individu.


Apakah tolok ukur dari kepuasan itu sendiri?
Status atau posisi?
Gaji?
Itu adalah pertanyaan yang harus dijawab dengan hati nurani kita masing-masing.


Pemikiran-pemikiran inilah yang menyebabkan gue mulai mempertanyakan orientasi gue.
Sebenernya untuk apa sih gue tunggang langgang bekerja kesana kemari?
Apa sih yang SEBENARNYA gue dapatkan dari pekerjaan ini?

Inilah saatnya bagi gue untuk berhenti sejenak dan berpikir.
Dimana hati gue berada?

Seorang teman pun bertanya hal yang sama ke gue. Elo pengennya apa?
Gue bilang gue suka buku. Mungkin menjadi penulis? Editor?
Dan dia pun menyarankan untuk kembali membuat blog.
Dari situlah inspirasi judul : The Journey of A Lonely Squid
Ini adalah perjalanan gue untuk mencari hati gue.
Dia tidak hilang, tetapi dia berada di jalan yang berbeda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar