Ini saatnya untuk mellow.
Malam ini, seperti biasa, gue membuka account facebook.
Setelah beberapa lama, entah kenapa tiba-tiba terbersit keinginan untuk mencari
seseorang di facebook.
Ketik namanya, tekan search.
Hasilnya keluar.
Yak, aliran kenangan pun mulai membanjiri otak gue.
Jadi ingat kejadian pertama kali dia ngajak kenalan.
Pertama kali kita jalan bareng, ngobrol ngalor-ngidul berjam-jam.
Berangkat bareng, pulang bareng.
Ingat sms dia supaya gue cepet pulang (takut kehujanan, mengingat sepatu gue bolong).
It's funny how you can still remember every details about someone,
who walked in and out of your life in a brief moment.
Rabu, 28 Juli 2010
Senin, 26 Juli 2010
Si Kasep
Okeh! Setelah kemarin membahas tema yang agak berat (sesi curhat habis-habisan),
mari beralih ke tema yang ringan. Tapi ini tetap curahan hati.
Jadi, setelah mengalami hari yang cukup menegangkan, me-mules-kan, memusingkan, dll,
ada satu kejadian yang membuat kepusingan itu menghilang sejenak.
Apakah itu? Apalagi kalau bukan ketemu sama kecengan!
Yak, memang yang namanya jodoh pasti tidak kemana. Buktinya adalah pertemuan kami
tadi di tempat parkir. Secara teknis kami memang bertemu, tapi sebenarnya gue cuma kebetulan
aja ada disana dan dia lewat.
Gue pun jadi berpikir : apakah ini kebetulan semata?
Apa sih sebenarnya kebetulan itu?
Apakah itu caranya alam semesta untuk memberi kita petunjuk-petunjuk?
Atau kebetulan itu hanyalah sebuah kebetulan?
Gue ga tau dengan kalian semua, tapi gue selalu percaya dengan kalimat berikut :
Everything happens for a reason
Yak, jadi boleh-boleh aja dong kalo gue bilang gue berjodoh sama si kasep itu.
Pertemuan gue tadi gue anggap sebagai pertanda bahwa gue ada kesempatan sama dia.
Kenapa? Karena tadi gue ketemunya dia lagi jalan sendiri. Kalo gue ketemunya dia lagi
jalan sama cewe terus rangkul-rangkulan, gue pasti menganggap bahwa itu pertanda
bahwa gue ga ada kesempatan sama dia.
Oke, ini sudah mulai terdengar menyedihkan. Harus diakhiri sampai disini.
ciao
mari beralih ke tema yang ringan. Tapi ini tetap curahan hati.
Jadi, setelah mengalami hari yang cukup menegangkan, me-mules-kan, memusingkan, dll,
ada satu kejadian yang membuat kepusingan itu menghilang sejenak.
Apakah itu? Apalagi kalau bukan ketemu sama kecengan!
Yak, memang yang namanya jodoh pasti tidak kemana. Buktinya adalah pertemuan kami
tadi di tempat parkir. Secara teknis kami memang bertemu, tapi sebenarnya gue cuma kebetulan
aja ada disana dan dia lewat.
Gue pun jadi berpikir : apakah ini kebetulan semata?
Apa sih sebenarnya kebetulan itu?
Apakah itu caranya alam semesta untuk memberi kita petunjuk-petunjuk?
Atau kebetulan itu hanyalah sebuah kebetulan?
Gue ga tau dengan kalian semua, tapi gue selalu percaya dengan kalimat berikut :
Everything happens for a reason
Yak, jadi boleh-boleh aja dong kalo gue bilang gue berjodoh sama si kasep itu.
Pertemuan gue tadi gue anggap sebagai pertanda bahwa gue ada kesempatan sama dia.
Kenapa? Karena tadi gue ketemunya dia lagi jalan sendiri. Kalo gue ketemunya dia lagi
jalan sama cewe terus rangkul-rangkulan, gue pasti menganggap bahwa itu pertanda
bahwa gue ga ada kesempatan sama dia.
Oke, ini sudah mulai terdengar menyedihkan. Harus diakhiri sampai disini.
ciao
Minggu, 25 Juli 2010
Awal baru untuk perubahan
Yak, setelah vakum untuk berapa lama di kancah per-blog-an,
akhirnya gue memutuskan untuk kembali menulis.
Kenapa keputusan ini gue ambil?
Tidak lain dan tidak bukan adalah karena beberapa perubahan pada kehidupan gue
yang baru2 ini terjadi begitu cepat.
Inti ceritanya adalah, gue mengalami perubahan status, perubahan tanggung jawab, perubahan sudut pandang dan perubahan irama kerja dalam kurun waktu yang sangat singkat.
Di masa-masa penyesuaian diri inilah, tiba-tiba muncul pertanyaan dari dalam hati gue.
Apa sih yang sebenernya gue kejar dari sini?
Apa sih yang sebenernya gue dapatkan dari sini?
Apa ini yang sebenernya gue mau?
Gue pun terdiam dan berpikir.
Apa sih yang dicari oleh orang-orang yang bekerja?
Selama ini yang selalu gue dengar adalah :
'Kalo ga mikirin anak-anak, gue pasti udah berhenti dari dulu'
'Cari kerjaan sekarang susah, belum tentu dapet yang langsung permanen'
'Kalo ga ada gaji, gimana gue mau hidup?'
'Ah, buat apa pindah? Gajinya lebih kecil dari yang disini'
Gue cukup pede untuk menyatakan bahwa pada umumnya inilah alasan yang akan dilontarkan
karyawan yang merasa tidak puas dengan pekerjaannya sekarang, tetapi tidak mau untuk
berhenti.
Dan gue juga semakin yakin bahwa alasan untuk kita bangun pagi setiap hari dan bekerja,
ternyata tidak lagi mulia.
Kita tidak lagi bangun pagi dan berniat untuk bekerja. Tapi kita TERPAKSA bangun pagi
setiap hari karena HARUS bekerja.
Sangat sedikit sekali orang yang mengawali paginya dengan antusias akan berangkat kerja.
Sedikit sekali orang yang melangkahkan kakinya dengan semangat ke tempat kerja dengan
harapan akan bekerja dan menghasilkan sesuatu.
Gue pun mencoba untuk mengusut kebelakang, sedikit lebih dalam. Kenapa ini terjadi?
Sampailah pada satu kesimpulan : Hati
Jika hati kita tidak ada di pekerjaan itu, maka selesailah sudah.
Yang ada hanyalah setumpuk omong kosong yang harus kita kerjakan, jika kita masih
ingin membeli sekarung beras untuk bulan depan.
Pekerjaan hanya akan menjadi alat bagi kita untuk menebus kebutuhan rumah tangga.
Tapi apa yang akan terjadi apabila hati kita ada di pekerjaan tersebut?
Kita akan mengambil setumpuk pekerjaan, dan kita akan berpikir :
Apa yang dapat kita lakukan untuk membuat hasil pekerjaan kita memuaskan?
Kita akan mendapatkan nilai tambah disitu : kepuasan
Bukan kepuasan atasan, bukan kepuasan rekan kerja, bukan kepuasan bawahan.
Tapi kepuasan kita sebagai individu.
Apakah tolok ukur dari kepuasan itu sendiri?
Status atau posisi?
Gaji?
Itu adalah pertanyaan yang harus dijawab dengan hati nurani kita masing-masing.
Pemikiran-pemikiran inilah yang menyebabkan gue mulai mempertanyakan orientasi gue.
Sebenernya untuk apa sih gue tunggang langgang bekerja kesana kemari?
Apa sih yang SEBENARNYA gue dapatkan dari pekerjaan ini?
Inilah saatnya bagi gue untuk berhenti sejenak dan berpikir.
Dimana hati gue berada?
Seorang teman pun bertanya hal yang sama ke gue. Elo pengennya apa?
Gue bilang gue suka buku. Mungkin menjadi penulis? Editor?
Dan dia pun menyarankan untuk kembali membuat blog.
Dari situlah inspirasi judul : The Journey of A Lonely Squid
Ini adalah perjalanan gue untuk mencari hati gue.
Dia tidak hilang, tetapi dia berada di jalan yang berbeda.
akhirnya gue memutuskan untuk kembali menulis.
Kenapa keputusan ini gue ambil?
Tidak lain dan tidak bukan adalah karena beberapa perubahan pada kehidupan gue
yang baru2 ini terjadi begitu cepat.
Inti ceritanya adalah, gue mengalami perubahan status, perubahan tanggung jawab, perubahan sudut pandang dan perubahan irama kerja dalam kurun waktu yang sangat singkat.
Di masa-masa penyesuaian diri inilah, tiba-tiba muncul pertanyaan dari dalam hati gue.
Apa sih yang sebenernya gue kejar dari sini?
Apa sih yang sebenernya gue dapatkan dari sini?
Apa ini yang sebenernya gue mau?
Gue pun terdiam dan berpikir.
Apa sih yang dicari oleh orang-orang yang bekerja?
Selama ini yang selalu gue dengar adalah :
'Kalo ga mikirin anak-anak, gue pasti udah berhenti dari dulu'
'Cari kerjaan sekarang susah, belum tentu dapet yang langsung permanen'
'Kalo ga ada gaji, gimana gue mau hidup?'
'Ah, buat apa pindah? Gajinya lebih kecil dari yang disini'
Gue cukup pede untuk menyatakan bahwa pada umumnya inilah alasan yang akan dilontarkan
karyawan yang merasa tidak puas dengan pekerjaannya sekarang, tetapi tidak mau untuk
berhenti.
Dan gue juga semakin yakin bahwa alasan untuk kita bangun pagi setiap hari dan bekerja,
ternyata tidak lagi mulia.
Kita tidak lagi bangun pagi dan berniat untuk bekerja. Tapi kita TERPAKSA bangun pagi
setiap hari karena HARUS bekerja.
Sangat sedikit sekali orang yang mengawali paginya dengan antusias akan berangkat kerja.
Sedikit sekali orang yang melangkahkan kakinya dengan semangat ke tempat kerja dengan
harapan akan bekerja dan menghasilkan sesuatu.
Gue pun mencoba untuk mengusut kebelakang, sedikit lebih dalam. Kenapa ini terjadi?
Sampailah pada satu kesimpulan : Hati
Jika hati kita tidak ada di pekerjaan itu, maka selesailah sudah.
Yang ada hanyalah setumpuk omong kosong yang harus kita kerjakan, jika kita masih
ingin membeli sekarung beras untuk bulan depan.
Pekerjaan hanya akan menjadi alat bagi kita untuk menebus kebutuhan rumah tangga.
Tapi apa yang akan terjadi apabila hati kita ada di pekerjaan tersebut?
Kita akan mengambil setumpuk pekerjaan, dan kita akan berpikir :
Apa yang dapat kita lakukan untuk membuat hasil pekerjaan kita memuaskan?
Kita akan mendapatkan nilai tambah disitu : kepuasan
Bukan kepuasan atasan, bukan kepuasan rekan kerja, bukan kepuasan bawahan.
Tapi kepuasan kita sebagai individu.
Apakah tolok ukur dari kepuasan itu sendiri?
Status atau posisi?
Gaji?
Itu adalah pertanyaan yang harus dijawab dengan hati nurani kita masing-masing.
Pemikiran-pemikiran inilah yang menyebabkan gue mulai mempertanyakan orientasi gue.
Sebenernya untuk apa sih gue tunggang langgang bekerja kesana kemari?
Apa sih yang SEBENARNYA gue dapatkan dari pekerjaan ini?
Inilah saatnya bagi gue untuk berhenti sejenak dan berpikir.
Dimana hati gue berada?
Seorang teman pun bertanya hal yang sama ke gue. Elo pengennya apa?
Gue bilang gue suka buku. Mungkin menjadi penulis? Editor?
Dan dia pun menyarankan untuk kembali membuat blog.
Dari situlah inspirasi judul : The Journey of A Lonely Squid
Ini adalah perjalanan gue untuk mencari hati gue.
Dia tidak hilang, tetapi dia berada di jalan yang berbeda.
Langganan:
Postingan (Atom)