Sabtu, 04 Desember 2010

Bebehku sayang, bebehku malang

Sebagai cumi yang sangat mengikuti trend, gue berusaha keras untuk tidak ketinggalan atau bisa dibilang 'kuper'.
Jadi ceritanya sekarang sedang musim yang namanya punya BB a.k.a. Blackberry, sebuah gadget yang konon gaul banget.
Setelah pro kontra yang berlangsung sekian lama, jadilah gue membeli BB. Berusaha dengan keras untuk menutup-nutupi si BB baru, selama beberapa hari dia tidak pernah keliatan keluar dari kantongnya.
Sampai akhirnya gue sempat untuk membeli 'baju' yang mirip warnanya dengan HP yang lama. Tapi yang namanya ditutup-tutupi pasti akan terbuka juga. Jadilah sekarang si BB bisa berkeliaran dengan bebas. Yah, positifnya sih jumlah contact di BBM menjadi bertambah. Mulailah berasa gaul sedikit dan mulai antusias untuk menambah contact.
Tapi dibalik keantusiasan itu, ada satu kekhawatiran. Jangan sampe PIN gue ketauan sama si 'tinggi besar' a.k.a. si big boss. Wah, bisa runyam perdamaian dunia!
Usia si BB sudah memasuki bulan kedua, sampai tiba dihari yang naas itu.
Gue sedang mengantri untuk makan siang di kantin kantor, dan dengan tenangnya ber-BB ria.
Saat itulah si big boss datang dan ikut mengantri di belakang. Setelah beberapa menit bercakap-cakap, si boss dengan santainya bertanya, "Leni berapa nomor PINnya?". Sambil menanyakan itu, dia meraih BBnya dari kantong.
Sedangkan gue, setengah bengong dan setengah mengutuk kebodohan diri sendiri, hanya mampu berkata, "Hah, berapa ya Pak? Minta PIN bapak aja deh."
Si boss menolak dengan halus, "Ah, tidak. Biar saya saja yang menginvite."
Ohmigod.
Berusaha mencari jalan keluar lain, gue berlagak pilon. "Tunggu ya Pak, saya lupa liatnya dimana" sambil berusaha terlihat bingung mengutak-atik si BB. Setelah beberapa menit, "Yah, saya lupa Pak liatnya dimana."
Dengan halus, gue masukkan si BB ke dalam kantong. Tapi dengan gigihnya, si bos menanyakan prosedur mencari PIN itu ke orang sebelahnya. Voila! Contact BBM gue bertambah satu.